Tadi kularikan diriku
Membeli ini dan itu
Menuruti perintah ibu
Semua kubayar dengan uang bapakku
Lalu kembaliannya masih dua ribu
Nyasar masuk dompetku
Kunaikkan harga belanjaanku
Kala ibu bertanya dimana sisa uang itu
Sepertinya ibu tertipu
Lalu dengan senyum ragu
Ibu meninggalkanku
Dengan dua lembar uang baru
Di dompet lusuhku
Korupsi Uang Ortu - Edisi Anti Korupsi
Korban Korupsi - Edisi Anti Korupsi
Disebuah jalan kecil dikota Jogja
Sesosok tubuh berdiri sedikit condong
Diatas aspal yang berlubang
Dengan jerami sebagai dagingnya
Dan batu bata sebagai kakinya
Tampak seperti orang-orangan sawah yang dipasang untuk mengusir hama
Ya, sama seperti sosok itu
Yang berdiri dengan berani untuk mengusir hama-hama negara
Bedanya bukan topi Pak Tani yang menghiasi
Justru kain kafan yang menyelimuti
Dan sebuah papan terpasang didepan dadanya bertuliskan
“Korban Korupsi”
Kisah Kampanye - Edisi Anti Korupsi
Masih kuingat
Saat jemari itu menyalami tangan tangan kurus kami
Mengenyangkan perut-perut kami yang tlah lama berbunyi
Mengambil perhatian raga yang kelaparan
Menerjunkan dirinya membela yang tak berdaya
Meneriakan janji-janji perubahan dengan berapi-api
Menghibur jiwa-jiwa yang menderita
Dengan senyumnya yang begitu meyakinkan
Dan tubuhnya yang gagah mulai bergerak
Merangkul semua yang selama ini dicampakan negara
Namun
Saat banyak suara telah terlena, mulai meneriakkan namanya
Saat dia telah duduk dikursi berjudul wakil rakyat
Tak lagi ada yang sama
Karena masa kampanye telah berakhir
Kini
Jemari itu mulai mencabik segalanya
Mencipta jutaan jeritan
Mengoyak perut yang telah kosong kembali
Jutaan rakyat yang terluka tak lagi didengarnya
Janji-janji perubahan hanya menjadi sampah di pinggiran kota
Membusuk lalu terfermentasi menjadi berbotol-botol alkohol
Yang menemaninya dengan para wanita penggoda
Disalah satu villa pribadi bertingkat tiga
Karena baginya
Setelah memegang kuasa
Rakyat bukanlah prioritas utama
Karena yang terpenting adalah menebalkan isi kantong yang telah gendut itu
Gila - Edisi Anti Korupsi
Sekarang semua sudah gila
Semakin jauh bedanya
Yang kecil meminta-minta
Sedang yang besar semakin besar
Menjadi kaya, lalu mulai bisa membeli segalanya
Bahkan sekarang mereka
Mulai membeli undang-undang dan juga negara
dUNIA pARAREL - Edisi Anti Korupsi
Manusia-manusia mencicit dan bersembunyi
Dan justru tikus-tikus lah yang memakai dasi
Duduk dikursi para pejabat bejat
dan semua semakin menjadi
larut dalam uang dan kuasa
tak lagi ada kendali
dunia menjadi gila
Calon Koruptor -Edisi Anti Korupsi
Panggung telah dipersiapkan
Puluhan amplop telah diisi
Mik telah diberdirikan
Dan lagu dangdut mulai terdengar
Dilantunkan dua penyanyi seksi yang bergoyang riang
Lalu diakhir lagu, sosok berjas itu menampakkan batang hidungnya
Meraih mik dengan tegasnya
Lalu mulai berkumandang
Dengan penuh semangat berkampanye
Lalu ditengah-tengah pidatonya, dia berteriak
“Kita berantas korupsi!”
Puluhan atau bahkan ratusan rakyat kecil yang mendengar
Ikut berseru senang, berharap besar
Sosok berjas itu tersenyum, lalu melanjutkan lagi untaian kata-katanya
Tentang hausnya Indonesia untuk berpegang pada pemimpin yang bersih
Disertai promosi tentang diri sendiri
Tepuk tangan riuh terdengar
Sosok itu pun turun dari panggung kokohnya
Lalu menyalami beberapa pemimpin warga
Sambil menyelipkan amplop putih dalam salamnya
Orang-orang itu tersenyum lalu mengumbar janji
Akan mengelu-elukan nama sosok itu
Hingga rakyat kecilpun teguh percaya padanya
Dan aku melihat mereka, disini
Sambil hatiku menjerit pilu
Kecewa
Siapa sosok berjas itu?
Yang pasti, dia bukan calon pemimpin bagiku
Tapi hanyalah salah satu calon koruptor
Aku dan Ingatan tentang Negriku (2) Edisi Anti Korupsi
Inilah yang kuingat dari negeriku
Para petinggi sibuk saling melembar batu
Menyombongkan diri mencari dukungan
Baku hantam sindiran tak henti terjadi
Tawur memperebutkan kekuasaan
Yang bagaikan mantra untuk menyulap tanda tangan menjadi uang
Terinspirasi oleh para tikus tikus senior
Yang berdasi rapi
Dan masih rajin tampil di televisi
Berperan menjadi pahlawan negeri
Kata mereka yang tlah putus asa
“Sekujur tubuh negri ini tlah lapuk
Kepalanya sudah membusuk
Dan kita tinggal menunggu akhirnya saja
Akhir yang menutup semua cerita dengan tanda tanya.”
Tapi bagiku
Mungkin masih ada sedikit sisa energi
Mungkin masih cukup untuk bangkit lagi
Asal tak ada ego lagi bagi yang bertahta
Dan para rakyat bersatu berseru
Masih ada kesempatan untuk Indonesiaku
Biar yang menjadi ingatan tentang negriku
Bukan para petinggi yang memperebutkan kesempatan menjadi pencuri
Tetapi tentang Indonesia yang bebas korupsi

