Judul Puisi

| Thursday, February 28, 2013 | 0 comments |
Berisi sajak
Berisi baris
Baris-baris-bersajak
Baris-bersajak-sajak
Bersajak-berbaris-sajak
Sajak-sajak-berbaris
Baris-baris-sajak
Baris-sajak-sajak
Sajak-baris-sajak
Sajak-sajak-baris
Berbaris-baris-sajak
Berbaris-sajak-sajak
Sajak-berbaris-sajak
Berbaris, Bersajak
Dan
Berakhir

Cukup Meski Hanya Itu

| Saturday, February 9, 2013 | 0 comments |
Aku tetap saja berlari
Meski berjuta jarum menusukku
Tak goyah perasaanku
Meski beberapa kali aku terjatuh
Tubuhku tak lagi cerah
Tertutup warna darah
Mengalir disekujur hatiku
Tapi bukan itu yang aku pedulikan
Aku tetap menatap lurus padamu
Menggapai yang tak tergapai
Merengkuhmu lah yang menjadi harapku
Tapi bahkan sudah tak ada lagi alasan untukku
Untuk mencintaimu
Segalanya telah pupus
Terbang jauh meninggalkan aku

Lalu yang tersisa hanya aku
Tenggelam dalam gelap
Tak sanggup lagi aku melangkah
Sungguh hanya satu yang kumau
Kembali sebentar saja untuk memelukku
Hanya dekapmu satu kali saja
Hanya itu
Cukup

Aku lah aku

| Tuesday, January 29, 2013 | 0 comments |
Yang lain sibuk mengejar
Aku hanya berjalan saja
Yang lain tak henti menulis
Aku hanya iseng menggambar

Yang lain tak peduli peluh
Aku bila lelah langsung beristirahat
Yang lain tak henti berusaha
Namun aku justru putus asa

Mengapa aku berbeda
Karna aku bukan mereka!
Aku bukan para pekerja itu
Aku lah penikmat kehidupan
Jangan pernah samakan aku dengan mereka
Jangan pernah

Karena aku adalah aku saja

Aku dan ingatan tentang negriku

| | 0 comments |
Inilah yang kuingat dari negeriku
Para petinggi sibuk saling melembar batu
Tawur memperebutkan kekuasaan
Menyombongkan diri mencari dukungan
Baku hantam sindiran tak henti terjadi
Sedang yang tlah memegang kekuasaan justru mencuri
Uang yang ada entah hilang kemana, entah masuk ke kantong siapa
Yang berkuasa menjelma menjadi tikus negara
Meski dasi tetap dipakainya

Yang tak berdaya bingung dijalan
Menurut kata yang tak pasti
Diombang ambing dalam ketidak biadaban
Membanting tulang mengabaikan peluh
Uang yang diperjuangkan tidak ternikmati
Dirampas para kuasa tak berhati

Genangan lumpur tak henti menewaskan
Sekujur tubuh negri ini tlah lapuk
Tinggal menunggu akhirnya saja
Tapi masih ada sedikit sisa -sisa energi
Mungkin masih cukup untuk bangkit lagi, Indonesia
Asal tak ada ego lagi bagi yang bertahta
Dan para rakyat juga bersatu
Masih bisa
Masih ada kesempatan untuk Indonesiaku

Lagi-lagi sajak tentangmu

| | 0 comments |
Terjebak dalam kesendirian
Senyum tak kuciptakan
Lelah telah kupastikan
Rindu dalam hati kutahan

Secepat yang kumampu kuberlari
Bukan keramaian yang kucari
Aku hanya mengejar hari
Menghitung waktu aku menanti

Begitu banyak sajak telah kutulis
Sembari menyeduh secangkir kopi manis
Kupanjatkan segenggam tangis
Menatap hujan gerimis

Kapan waktu kan berlalu
Hingga mampu kulupa kisah tentangmu
Tak lagi ku dirundung pilu
Tangis ku kau bawa ke hulu


Diam Saja

| | 0 comments |
Sssstttt
Ssssttt
Sssssssssstttttttttt
DIAM!!
DIAM!!
 Tolong diam
Ada seseorang yang butuh ketenangan disini
Rasanya lelah telinga ini
Mendengar jangkrik yang tak henti bercakap
Mendengar raja hutan yang tak henti mendengkur

SSSSSTTTTT
DIAM...DIAM....DIAM!
Diamlah
Diam saja
terkadang itu lebih baik dari pada kau biarkan mulutmu mendengung
Meski yang kau ucap kata-kata seindah mutiara
Namun terkadang diam bisa meredam semua
Meredam amarah sang muda yang tertahan disini

Maka tolong
Kali ini diam saja, cukup!!

Sejenak

| | 0 comments |
Perlahan aku terlupa
Akan setiap kenangan
Kala aku disibukan dengan begitu banyak peluh
Waktu tak henti mengejarku
Mendesakku
Memaksaku berlari

Kini aku semakin terkekang
Tak lagi sesakti waktu yang lalu
Hanya menunduk
Malu
Ketika berjuta pertanyaan diajukan
Hanya menunduk
diam
Ketika harus mengisi jawaban

Kenangan tentangmu kini sembunyi
Tak sesering dulu berkunjung diujung pikiranku
Sedikit waktu aku beristirahat
Dari lelahnya mencintaimu

Sejenak...
Hanya Sejenak,...
Sejenak saja